Akhir-akhir ini masyarakat dikagetkan dengan pencurian data pada sebuah aplikasi Zoom. Terhitung sejak 16 April 2020, lebih dari 530 ribu data pengguna Zoom dijual di dark web. Pihak pertama yang menemukan adanya pembobolan data pada Zoom adalah Cyble. Cyble adalah perusahaan cybersecurity di Amerika Serikat. Data pengguna zoom dijual dengan harga yang sangat murah di dark web, yaitu US$0,002 atau setara dengan Rp31,58 per akun. 

Lalu pada 21 mei 2020 dilanjutkan Tokopedia juga mengalami pencurian data pengguna sebanyak 91 juta data. Anonim yang meretas tokopedia menggunakan nama Whysodank. Data yang berhasil diperoleh seperti nama pengguna, alamat email, hingga nomor telepon. Untuk layanan seperti OVO, DANA kartu kredit, dan debit lainnya masih dipastikan aman oleh pihak tokopedia, tapi tidak dipungkiri bahwa layanan tersebut juga terancam dicuri.

Mendengar kabar itu masyarakat kaget sekaligus panik. Hal ini sangatlah disayangkan, karena peretasan dan pembobolan data bukan hal yang baru di Internet. Pencurian data sudah menjadi hal lumrah dan sering terjadi di internet. Peretasan pertama kali terjadi pada tahun 1960 yang dilakukan oleh mahasiswa dari Massachussetts Institute of Technology (MIT). Tetapi tokoh hacker yang pertama kali menggencarkan dunia adalah Kevin Mitnick. Mitnick melakukan peretasan pertamanya pada usia 12 tahun dengan meretas membobol sistem kartu bus berlangganan pada 1883. Lalu Mitnick ditangkap oleh FBI. Setelah lepas dari penjara, itu tidak membuatnya jera. Mitnick terus menjadi incaran FBI atas tuduhan peretasan jaringan komputer.

Zoom dan Tokopedia cuman dua aplikasi dari banyaknya aplikasi yang ke blow up oleh media karena kebobolan data, masih banyak aplikasi yang juga mengalami kebobolan data sebelumnya. Dan fakta lucunya, ketika Zoom dan Tokopedia mengalami kebobolan data, terdapat beribu-ribu aplikasi dan akun lainnya yang mengalami hal sama. Walaupun di Internet tidak ada yang aman, tetapi Zoom sendiri memiliki banyak celah yang mudah untuk dimasuki.

Tidak ada yang aman di internet. Tidak ada yang tidak bisa diretas, adanya susah diretas. Tugas kita saat pertama kali menginjakkan kaki di internet adalah bagaimana cara agar identitas kita terlindungi. Diibaratkan the hunger games, identitas kita adalah sasaran empuk bagi orang-orang yang sedang mencari identitas gratis untuk menggandakan identitasnya. Yang berarti kapan saja identitas kita bisa tercuri. Ketika kita mengupload foto kita ke internet, itu sama seperti kita memberikan foto kita secara sukarela ke orang lain. Orang lain bisa menggunakannya sebagai apa saja yang dia mau seperti membuat akun baru dengan foto kita, mengedit foto kita bersama siapapun orangnya dengan pose bemesraan, dan yang paling parahnya menjadi iklan porno. 

Bahkan ketika kita merasa bahwa identitas kita tidak diretas, tetapi justru pergerakan kita selama di Internet terekam. Hal ini bisa dibuktikan jika kamu berbicara tentang ‘Denim’ maka akan muncul banyak iklan denim atau apapun yang berkaitan dengan ‘denim’. Begitu pula jika kamu mensearching dan mengetik ‘denim’ dimanapun itu. Hal ini dinamai Big Data, sebuah data yang besar untuk mengetahui apa yang sedang dicari oleh pengguna dan konsumen. Biasanya digunakan untuk keperluan riset sebuah perusahaan untuk memperbaiki kualitas pelayanan pengguna.

Identitas yang dicuri bisa digunakan sebagai apa saja yang berkaitan dengan aktivitas di Internet seperti penipuan online, pinjaman online, menggandakan identitas di Internet, jika akun memiliki identitas yang sama dengan akun yang lainnya maka akan berpotensi semua akun terbobol, dan dijual di darkweb

Darkweb adalah bagian terdalam dari internet. Jika dibandingan dengan deepweb maka darkweb adalah bagian paling terkecil, sedangkan deepweb lebih besar dari darkweb. Tapi tetap saja, deepweb dan darkweb adalah bagian terdalam dari internet. Jika diurutkan dari permukaan internet dari permukaan sampai yang terdalam maka seperti ini : surfaceweb – deep web – dark web

Transaksi ilegal tidak bisa dilakukan pada surface web, maka dilakukanlah di darkweb. Menjual obat-obatan terlarang, senjata, hewan yang dilindungi, identitas orang lain, dan bahkan pembunuh bayaran. Itu adalah aktivitas yang bisa ditemui di darkweb. Walaupun di darkweb kebanyakan aktivitas ilegal, bukan berarti aktivitas ilegal diperbolehkan. Hanya saja aktivitas ilegal di darkweb susah untuk diidentifikasi orang yang sedang bertransaksi sehingga bebas dari ancaman penjara dan hukuman lainnya. Europol, badan penegak uni eropa pernah menutup banyak pasar gelap bahkan dihapus. Tetapi seperti apa kata pepatah, “mati satu tumbuh seribu”. Diluar ekspektasi Europol, semakin banyak transaksi gelap yang ada di darkweb.
 
Berselancar di Deepweb atau Darkweb tidak seperti di surface web yang bisa sesuka hatimu pindah ke satu website ke website lainnya. Deepweb dan darkweb bukan tempat bagi kamu yang sekedar berkunjung jika tidak dilengkapi keamanan. Tidak hanya bertemu akun anonim, tetapi juga terancam berurusan dengan penegak hukum. Dan di dark web juga terdapat banyak virus yang berkeliaran. Oleh karena itu, kemanan ganda saat kita ingin berselancar di darkweb sangatlah diperlukan.

Sudah banyak sekali kejadian pembobolan data, peretasan jaringan, dan masalah lainnya. Bahkan ketika kamu membaca ini, banyak akun dan aplikasi yang sedang tercuri datanya. Mungkin sekarang giliran kamu?.